Sejarah Dan Budaya Tolaki

oleh

Bedah sejarah tolaki beserta kebudayaannya

Laporan.  Redaksi

Kendari,  konsel pos.  Berdasarkan tarikh masehi berdirinya kerajaan ini, maka tidak heran jika banyak kalangan meyakini bahwa Padangguni adalah Kerajaan Prasejarah Tertua di Indonesia, lebih dahulu ada dibandingkan Kerajaan Kutai yang muncul pada abad ke-4.

Pewarta-Indonesia, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah salah satu topik pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang amat popoler dan masih menjadi acuan politik pemerintah maupun rakyat hingga saat ini, Jas merah! Sejarah memang selalu jadi legenda nyata yang akan mempengaruhi kehidupan manusia, juga perjalanan hidup suatu bangsa. Tidak ada satupun bangsa atau negara di dunia ini yang steril dari kisah sejarah masa lampau bangsa atau negara itu. Heroisme yang dipertontonkan generasi masa lalu akan terefleksi dalam setiap gerak hidup generasi penerusnya. “Nenek moyangku orang pelaut…” sebuah ungkapan nyanyian anak-anak yang menjadi cerminan kebesaran dan kedigdayaan bangsa Indonesia di masa lampau, yang terwariskan mempengaruhi sejarah kehidupan mayoritas masyarakat sepanjang pantai di kepulauan Indonesia saat ini. Bangsa besar lahir dari sejarah kebangsaan yang besar pula.

Betapa pentingnya mengetahui dan memahami sejarah bangsa. Maka mencari, meneliti, dan menelurusi jejak hidup nenek-moyang kita dengan segala bentuk dan struktur kehidupan masyarakatnya adalah tugas sejarah yang mesti dilaksanakan oleh generasi masa kini dan mendatang. Kepedulian kita tentang sejarah dan budaya nenek moyang bangsa akan memperkaya khasanah kebudayaan di tanah air yang pada gilirannya dapat berpotensi menjadi salah satu tujuan wisata sejarah. Dengan mengetahui sejarah bangsa, kita boleh menyadari bahwa di Indonesia ini pernah lahir lebih dari 1000 buah kerajaan, sebuah angka fantastis yang tidak akan pernah kita jumpai di belahan dunia lainnya. Dari penelitian kesejarahaan masyarakat tradisional di nusantara, kita juga dapat mengetahui bahwa tata pemerintahan tradisional yang menjunjung tinggi keberadaan aturan hukum selayaknya undang-undang di jaman kini, sudah eksis sejak dahulu kala. Salah satunya adalah Kalo Sara Hukum Adat di kerajaan kuno, Kerajaan Padangguni.

Kerajaan Tertua di Indonesia

Kerajaan Padangguni merupakan kerajaan kecil di wilayah Kendari, Sulawesi Tenggara. Rakyat kerajaan ini berasal dari suku Tolaki kuno yang hingga hari ini masih eksis dengan tetap mempertahankan tradisi kuno yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek-moyang mereka. Komunitas suku Tolaki kuno di jaman prasejarah masa lampau itu berkembang menjadi sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Larumbesi Tanggolowuta I pada abad ke-2 Masehi. Dalam kitab Bunduwula disebutkan bahwa Kerajaan Padangguni dahulu disebut Owuta Puasa yang berarti Tanah Pusaka atau Tanah Leluhur. Berdasarkan tarikh masehi berdirinya kerjaaan ini, maka tidak heran jika banyak kalangan meyakini bahwa Padangguni adalah Kerajaan Prasejarah Tertua di Indonesia, lebih dahulu dibandingkan Kerajaan Kutai yang muncul pada abad ke-4.

Masyarakat suku Tolaki kuno di Kerajaan Padangguni pada saat sebelum datangnya agama Hindu-Budha menganut kepercayaan Animisme, Dinamisme, dan Totenisme. Kemudian pada awal abad XIV mereka beralih kepercayaan menganut agama Hindu. Oleh karena itulah Lambang Dewa Shiwa dipergunakan sebagai Lambang Kalo Sara hukum adat setempat untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul dalam masyarakat. Bagi yang tidak tunduk dan tidak mematuhi Kalo Sara hukum adat ini dipercaya akan mendapatkan kutukan.

Agama Hindu-Budha yang dianut masyarakat pada saat itu tidak sama persis dengan agama Hindu yang berkembang di India. Hal ini karena disesuaikan dengan kepercayaan masyarakat sehingga terjadi akulturasi dalam wujud agama Hindu-Budha. Perkembangan kepercayaan masyarakat kerajaan Padangguni nampak dari struktur pemerintahan sejak jaman Hindu s/d abad XIX. Corak pemerintahan dipengaruhi oleh akulturasi Hindu-Buddha yang selanjutnya berakulturasi lagi dengan kebudayaan Islam yang masuk dari kerajaan Goa-Tallo di Sulawesi Selatan. Fenomena terakhir, pengangkatan raja Kerajaan Padangguni yakni Raja Bunduwula XII yang diberi gelar Sultan dilakukan dengan pertimbangan penyesuaian kebudayaan Islam. Dalam bahasa Tolaki, kerajaan dipimpin oleh seorang Raja atau Mokole dan keturunannya yang disebut Anakia (laki-laki) dan Anawai (perempuan), sedangkan kesultanan menurut terminologi bahasa Arab adalah sama dengan kerajaan yang dipimpin oleh seorang Sultan.

Beberapa catatan sejarah dan bukti yang masih tersisa berupa budaya dan peninggalan tertulis, diantaranya kitab-kitab yang berisikan tentang perjalanan suku Tolaki, silsilah raja-raja, dan peristiwa-peristiwa lainnya. Kitab Ilagaligo adalah kitab yang berasal dari kerajaan Goa-Tallo yang menjelaskan tentang asal-usul Raja Bunduwula I. Kitab Taenango suku Tolaki kuno yang memuat asal-usul kejadian manusia dan berisi nasehat-nasehat kehidupan, dan riwayat perjalanan hidup suku Tolaki yang diceritakan dalam bentuk syair. Kitab ini biasanya dibaca dengan cara dinyanyikan pada saat upacara keagamaan dan upacara perkawinan. Kitab Bunduwula Sangia Wonua Sorume menjelaskan asal-usul terbentuknya kerajaan Padangguni.

Kalo Sara Hukum Adat

Di bidang kebudayaan, terdapat budaya Kalo Sara Hukum Adat yang menjadi pedoman bertingkah-laku anggota masyarakat Tolaki kuno hingga generasinya saat ini. Barangsiapa yang tidak mematuhi hukum adat tersebut dipercaya akan mendapatkan kutukan. Juga, dapat disaksikan pementasan sakral budaya Tarian Ulo. Tarian ini bisanya digunakan untuk penyembahan pada dewa dan leluhur dan orang tua atau raja yang sudah meninggal. Selain itu, masyarakat Tolaki di kerajaan Padangguni yang masih tradisional itu menguasai ilmu meteorologi dan geofisika (Matanggawe), perhitungan waktu (Bilangari), dan seni bangunan.

Dalam kitab Bunduwula dan kitab Taenango menjelaskan struktur organisasi pemerintahan kerajaan Padangguni sebagai pusat kerajaan. Kerajaan Padangguni membawahi daerah-daerah yang diperintah oleh seorang Mokole atau Raja, Inowa, Inowa Owa, Wonua, Napo dan Kambo. Daerah-daerah tersebut menjadi anggota persekutuan pemerintahan kerajaan Padangguni yang umumnya masih kerabat atau keluarga dekat Raja Bunduwula yang memerintah dalam wilayah/daerah secara otonom. Raja Bunduwula memerintah atas nama daerah-daerah itu dengan Mokole-mokole/Raja, Inowa, Inowa owa. Apabila Raja Padangguni bertindak keluar, ia merupakan wakil rakyat yang berkuasa penuh, sedangkan jika bertindak kedalam ia merupakan lambang nenek-moyang yang didewakan.

Tari LULO dan MOTAMBE khas suku TOLAKI

Mengenakan busana tradisional berwarna kuning menyala, dilengkapi selendang biru, dan ikat kepala merah, serta aksesoris kalung etnik. Para penari wanita muda dan cantik ini berlenggak-lenggok atraktif dan kadang gemulai mengikuti irama musik. Tarian itu kerap disuguhkan di berbagai acara khusus untuk menerima atau menjemput tamu kehormatan.
Soal seni budaya, Kota Kendari pun tak kalah dengan daerah lain. Kalau Aceh identik dengan Tari Seudati, Jakarta tersohor dengan Tari Topeng Betawi, maka Kota Kendari pun memiliki beberapa tarian tradisional yang khas dan pantas dibanggakan, seperti Tari Monotambe dan Lulo.
Tari Monotambe atau tari penjemputan misalnya merupakan tarian khas Suku Tolaki yang kerap ditampilkan saat ada event berskala besar untuk menjemput tamu besar. Misalnya saat pembukaan Festival Tekuk Kendari (Festek) yang kerap dihadiri beberapa tamu penting dari Jakarta dan daerahlain. Sebagai catatan Suku Tolaki merupakan penduduk asli Kota Kendari sebagaimana Suku Betawi di Kota Jakarta.
Tarian ini dilakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai pengawal. Para penari perempuanyya mengenakan busana motif Tabere atau hiasan, sarung tenun Tolaki, dan aksesoris seperti Ngaluh atau ikat kepala, dan kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5 sampai 10 menit ini, beberapa penari perempuan membawa Bosara atau bokor dari rotan, sedangkan dua penari lelakinya memegang senjata tradisional.

tari lulo tradisional

Sementar Tari Lulo merupakan tari pergaulan khas Sulawesi Tenggara yang juga populer di Kota Kendari. Tarian ini biasanya dilakukan oleh kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini Tari Lulo juga kerap disuguhkan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan antara warga Kota Kendari dengan pendatang, dalam hal ini wisatawan.
Gerakan Tari Lulo tidaklah serumit tarian tradisonal lain. Para penarinya saling berpegang tangan satu sama lain membetuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam sebuah acara besar yang dihadiri pengujung dari luar Kota Kendari, para penari Lulo selalu mengajak tamu dengan ramah untuk ikut menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari akan dianjarkan cara melangkah atau menari ala Tari Lulo oleh penari yang mengajaknya hingga terbiasa.
Tari Lulo ini pun kerap ditampilkan pada Festek. Bahkan pada perayaan tersebut, tari ini pernah ditampilkan secara kolosal dengan mengikutsertakan warga kota dan wisatawan yang datang. TC Alip

Nilai-nilai Kebudayaan masyarakat TOLAKI

Kota Kendari terdiri dari beberapa suku bangsa, salah satunya adalah suku bangsa Tolaki. Suku ini merupakan suku asli di daratan Sulawesi Tenggara selain suku Muna dari Pulau Muna dan Suku Buton yang berasal dari pulau Buton. Sekitar abad ke-10 daratan Sulawesi Tenggara memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe (wilayah Kabupaten Konawe) dan Kerajaan Mekongga (Wilayah Kabupaten Kolaka) secara umum kedua Kerajaan ini serumpun dan dikenal sebagai suku Tolaki. Dalam artikel ini saya akan membahas secara singkat tentang Kebudayaan masyarakat Tolaki.

Dalam perjalanan sejarah Kerajaan Konawe yang berkedudukan di Unaaha pernah menerapkan perangkat pemerintahan yang dikenal dengan SIWOLE MBATOHU sekitar tahun 1602/1666 yaitu :

1) Tambo I ´Losoano Oleo

2) Tambo I´ Tepuliano Oleo

3) Bharata I´Hana;

4) Bharata I´ Moeri

Ditengah-tengah kehidupan sosial kemasyarakatan mereka terdapat satu simbol peradaban yang mampu mempersatukan dari berbagai masalah atau persoalan yang mampu mengangkat martabat dan kehormatan mereka disebut: “KALO SARA” serta kebudayaan Tolaki ini yang lahir dari budi, tercermin sebagai cipta rasa dan karsa akan melandasi ketentraman, kesejahteraan kebersamaan dan kehalusan pergaulan dalam bermasyarakat.

Didalam berinteraksi sosial kehidupan bermasyarakat terdapat nilai-nilai luhur lainnya yang merupakan Filosofi kehidupan yang menjadi pegangan , adapun filosofi kebudayaan masyarakat tolaki dituangkan dalam sebuah istilah atau perumpamaan, antara lain sebagai berikut :

– Budaya O’sara (Budaya patuh dan setia dengan terhadap putusan lembaga adat), masyarakat Tolaki merupakan masyarakat lebih memilih menyelesaikan secara adat sebelum dilimpahkan/diserahkan ke pemerintah dalam hal sengketa maupun pelanggaran sosial yang timbul dalam masyarakat tolaki, misalnya dalam masalah sengketa tanah, ataupun pelecehan. Masyarakat tolaki akan menghormati dan mematuhi setiap putusan lembaga adat. Artinya masyarakat tolaki merupakan masyarakat yang cinta damai dan selalu memilih jalan damai dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

– Budaya Kohanu (budaya malu), Budaya Malu sejak dulu merupakan inti dari pertahanan diri dari setiap pribadi masyarakat tolaki yang setiap saat, dimanapun berada dan bertindak selalu dijaga, dipelihara dan dipertahankan. Ini bisa dibuktikan dengan sikap masyarakat Tolaki yang akan tersinggung dengan mudah jika dikatakan , pemalas, penipu, pemabuk, penjudi dan miskin, dihina, ditindas dan sebagainya. Budaya Malu dapat dikatakan sebagai motivator untuk setiap pribadi masyarakat tolaki untuk selalu menjadi lebih kreatif, inovatif dan terdorong untuk selalu meningkatkan sumber dayanya masing-masing untuk menjadi yang terdepan.

– Budaya Merou (Paham sopan santun dan tata pergaulan), budaya ini merupakan budaya untuk selalu bersikap dan berperilaku yang sopan dan santun, saling hormat-menghormati sesama manusia. Hal ini sesuai dengan filosofi kehidupan masyarakat tolaki dalam bentuk perumpamaan antara lain sebagai berikut:

Ø “Inae Merou, Nggoieto Ano Dadio Toono Merou Ihanuno”

Artinya :

Barang siapa yang bersikap sopan kepada orang lain, maka pasti orang lain akan banyak sopan kepadanya.

Ø “Inae Ko Sara Nggoie Pinesara, Mano Inae Lia Sara Nggoie Pinekasara”

Artinya :

Barang siapa yang patuh pada hukum adat maka ia pasti dilindungi dan dibela oleh hukum, namun barang siapa yang tidak patuh kepada hukum adat maka ia akan dikenakan sanksi / hukuman

Ø “Inae Kona Wawe Ie Nggo Modupa Oambo”

Artinya :

Barang siapa yang baik budi pekertinya dia yang akan mendapatkan kebaikan

– Budaya “samaturu” “medulu ronga mepokoo’aso” (budaya bersatu, suka tolong menolong dan saling membantu), Masyarakat tolaki dalam menghadapi setiap permasalahan sosial dan pemerintahan baik itu berupa upacara adat,pesta pernikahan, kematian maupun dalam melaksanakan peran dan fungsinya sebagai warga negara, selalu bersatu, bekerjasama, saling tolong menolong dan bantu-membantu .

– Budaya “taa ehe tinua-tuay” (Budaya Bangga terhadap martabat dan jati diri sebagai orang tolaki), budaya ini sebenarnya masuk kedalam “budaya kohanu” (budaya malu) namun ada perbedaan mendasar karena pada budaya ini tersirat sifat mandiri,kebanggaan, percaya diri dan rendah hati sebagai orang tolaki .

Mudah-mudahan dari sekian banyak nilai-nilai budaya masyarakat Tolaki yang ada, apa yang saya berikan pada artikel ini bisa lebih membuka mata dan memberi sedikit gambaran tentang kebudayaan Masyarakat Tolaki.

Khasanah kehidupan masyarakat di Kota Kendari Khususnya dan Sulawesi Tenggara Umumnya bukan hanya dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur suku bangsa Tolaki tetapi juga oleh masyarakat suku lainnya yang berada di “bumi anoa”, kesemuanya menjadi daya perekat dalam kehidupan bemasyarakat di daerah ini .kerukunan antar ummat beragama juga memberi warna tersendiri ditengah- tengah kepercayaan dan keyakinan untuk menyerahkan diri kepada Tuhannya masing-masing. Rumah Komali dengan titik pusat tiang Petumbu; Perwujudan “KALO”, Simbol kesatuan Persatuan manusia & alam suku TOLAKI

Apakah kalo? Secara harfiah “Kalo” adalah suatu benda yang berbentuk lingkaran, cara-cara mengikat yang melingkar, dan pertemuan-pertemuan atau kegiatan bersama di mana para pelaku membentuk lingkaran. Kalo dapat dibuat dari rotan, emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan dari kulit kerbau. Pembuatan kalo pada dasarnya adalah dengan jalan mempertalikan atau mempertemukan kedua ujung dari bahan-bahan tersebut pada suatu simpul. Kalo meliputi osara (adat istiadat) yang berkaitan dengan adat pokok dalam pemerintahan, hubungan kekeluargaan-kemasyarakatan, aktivitas agama- kepercaya-an, pekerjaan-keahlian dan pertanian (Tarimana 1993: 20).

Dari berbagai jenis kalo, yang dikenal luas adalah yang terbuat dari rotan, kain putih dan anyaman. Lingkaran rotan adalah simbol dunia atas, kain putih adalah simbol dunia tengah dan wadah anyaman adalah simbol dunia bawah. Kadang-kadang juga ada yang mengatakan bawah lingkaran rotan itu adalah simbol matahari, bulan dan bintang-bintang; Kain putih adalah langit dan wadah anyaman adalah simbol permukaan bumi. Mereka juga mengekspresikan bahwa lingkaran rotan adalah simbol Sangia Mbu’u (Dewa Tertinggi), Sangia I Losoanooleo (Dewa di Timur) dan Sangia I Tepuliano Wanua (Dewa penguasa kehidupan di bumi), dan wadah anyaman adalah simbol Sangia I Puri Wuta (Dewa di Dasar Bumi). Kalo juga adalah simbol manusia: lingkaran rotan adalah simbol kepala manusia, kain putih adalah simbol badan dan wadah anyaman adalah simbol tangan dan kaki (angota).

Demikianlah kalo pada pola pikir dan mentalitas Tolaki menyangkut seluruh aspek kehidupan mereka. Kalo juga merupakan ekspresi konsepsi orang Tolaki mengenai unsur-unsur manusia, alam, masyarakat dan hubungan selaras antarmanusia dan antara manusia dengan unsur-unsur tersebut, termasuk dalam komunitas dan pola permukiman, organisasi kerajaan dan adat dan norma agama yang mengatur tata kehidupan mereka. Akhirnya dapat dikatakan bahwa kalo melambangkan keselarasan dalam kesatuan-persatuan antara segala hal yang bertentangan dan tampak bertentangan dalam alam tempat berhuni manusia Tolaki.

tari lulo Modern

Budaya Tari Lulo dari Kota Kendari

Kota Kendari merupakan ibukota propinsi Sulawesi Tenggara, kota kendari ini masuk dalam kategori kota sedang dengan luas wilayah 295,89 Km² dan berpenduduk sekitar 289.966 jiwa menurut sensus tahun 2010, sebagai ibukota propinsi yang tengah berkembang pertumbuhan penduduk kota kendari tidak saja dipengaruhi oleh tingkat kelahiran tapi pertumbuhan penduduknya juga dipengaruhi oleh arus urbanisasi penduduk baik itu dari daerah-daerah di sekitar kota kendari maupun dari wilayah lain di Sulawesi tenggara bahkan dari daerah di luar Sulawesi Tenggara. Dengan demikian penduduk Kota Kendari sangatlah heterogen, penduduk Kota Kendari terdiri atas banyak suku antaranya adalah suku Tolaki sebagai suku asli di kota kendari, suku Muna, Bugis-Makasar, Buton, Moronene dan suku-suku dari kepulauan Wakatobi serta suku-suku lain dari seluruh pelosok nusantara ada di kota kendari, mereka tidak saja tinggal dan menetap di kota ini namun mereka juga telah berbaur dan berasimilasi dengan kebudayaan dan adat istiadat setempat yakni budaya dan adat istiadat Tolaki yang merupakan penduduk asli kota Kendari.

Salah satu dari budaya asli masyarakat Tolaki yang sudah diadaptasi oleh hampir seluruh masyarakatKota Kendari adalah tari lulo atau molulo yaitu tarian tradisional yang diperagakan secara massal dan membentuk lingkaran.. Dalam setiap acara-acara yang diadakan oleh masyarakat kota kendari yang bersifat hiburan termasuk pula pesta-pesta perkawinan baik itu dari suku Tolaki maupun itu dari suku atau etnis di luar suku tolaki maka salah satu acara yang hampir tidak pernah ketinggalan untuk diadakan adalah acara Molulo, Tarian lulo atau molulo bagi masyarakat kota Kendari bukan lagi merupakan tarian masyarakat Tolaki saja tapi tarian ini sudah merupakan tarian bersama bagi seluruh etnis yang ada di kota kendari

Tari lulo atau molulo adalah tarian khas suku Tolaki yang merupakan penduduk asli kota kendari, tarian ini biasa diadakan pada acara-acara pesta perkawinan, perjamuan dalam menyambut tamu ataupun acara-acara hiburan ramah tamah,tari lulo ini menjadi sarana dan media masyarakat Tolaki untuk mengeratkan pergaulan dengan warga masyarakat lain tanpa membedakan latar belakang etnis, agama, status sosial, kelompok, atau usia. Atraksi tari lulo adalah sebuah bentuk konfigurasi sosial dalam keberagaman.yang harmonis, sehingga tidaklah mengherankan jika tari lulo ini dapat diterima oleh semua etnis yang ada di kota kendari, yang akhirnya menjadi ciri khas kota Kendari.

Menari lulo atau molulo tidaklah rumit, tarian yang dilakukan secara massal dan membentuk lingkaran ini bergerak maju mundur berlawanan dengan arah jarum jam, dengan iringan musik yang berirama menghentak, dangdut, atau bunyi tabuhan gong, struktur gerakan akan dengan mudah terbangun. Mula-mula jari tangan digenggamkan dengan jari tangan pasangan kita sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut. Posisi telapak tangan pria harus di bawah telapak tangan wanita. Ini aturan atau etika yang harus diperhatikan agar gerakan tetap harmonis dan bagian dada wanita pasangan menari tak tersentuh, penari lulo ini berdiri berjajar dan membentuk lingkaran semakin banyak yang ikut menari akan semakin besar pula lingkaran yang ada, tangan yang sudah saling mengait digerakkan turun naik bersama dengan pasangan untuk mengimbangi ayunan langkah kaki yang maju mundur, ke kiri dan kanan, dengan tempo gerakan yang bersesuaian dengan irama pengiring. Dalam budaya aslinya molulo ini diiringi oleh tabuhan gong alat musik pukul yang terbuat dari logam namun karena sekarang ini sudah jarang ditemukan orang yang ahli dalam memainkan irama gong sesuai dengan irama aslinya, apalagi sekarang dengan semakin berkembangnya teknologi dan musik maka tabuhan gong sebagai pengiring tarian lulo ini sudah digantikan dengan iringan lagu dan musik baik itu melalui pemutar suara, iringan band atau elekton/organ tunggal.

Pada awal mulai menari lulo ini biasanya dengan gaya tari lulo biasa yang gerakannya tidak terlalu cepat namun semakin lama semakin cepat irama penggiringnya lulo pun mulai berganti gerakan dengan gerakan yang lebih cepat dan bersemangat yang biasa disebut dengan lulo pata-pata hingga ke gerakan lulo yang paling cepat dan bersemangat yang biasa disebut dengan moleba. Molulo ini sesungguhnya membutuhkan ekstra tenaga untuk melakukannya, gerakannya yang konstan dan terus bergerak memutar apalagi untuk gerakan-gerakan lulo leba-leba atau lulo leba sangat menguras energi, namun karena sensasi dan keasyikan dalam menari lulo ini kadang karena saking semangatnya sehingga rasa capek dan lelah itu tidak terasa oleh para penari baik yang tua maupun yang muda. .Bagi kalangan muda-mudi, acara lulo merupakan acara mencari jodoh, kesempatan berkomunikasi, saling mengukur rasa dan perasaan terhadap pasangan masing-masing, siapa tahu setelah itu bisa terjadi hubungan pribadi yang akan berlanjut ke perjodohan.

Seni tari lulo pada awalnya merupakan ritual untuk memuja dewa padi yang disebut Sanggoleo Mbae dalam istilah Tolaki, karena itu, gerakan dasar tarian ini menggambarkan orang menginjak-injak padi. Kata lulo itu sendiri berasal dari ungkapan molulowi yang berarti menginjak-injak onggokan padi untuk melepaskan bulir dari tangkainya. Dalam bentuk aslinya (tradisional), tari lulo menampilkan banyak variasi (gaya) kendati gerakan dasarnya sama. Sebagaimana dituturkan Arsamid Al Ashur (63), tokoh adat dan budaya Tolaki, tarian tradisional itu terdiri dari lulo sangia, lulo nilakoako, lulo ndinuka-tuka, lulo leba-leba, dan lulo leba.

Irama pengiring juga bunyinya bervariasi sesuai dengan alat yang digunakan. Irama tolongi dongi-dongi menggunakan gong kecil. Irama mode-mode salaka memakai gong ceper. Irama tundu watu ngganeko menggunakan tiga gong dengan ukuran bertingkat, sedangkan irama pundi madi talopo menggunakan tiga gong yang besarnya sama. Di zaman dahulu, sebelum dikenal alat pengiring dari gong, pengiring lulo adalah gendang yang terbuat dari potongan silinder kayu yang salah satu ujungnya ditutupi kulit kayu atau kulit binatang. Ada juga yang menggunakan sejenis kulintang dari bambu yang dilubangi dan menghasilkan bunyi.Dalam perkembangannya tari lulo tidak hanya ditampilkan pada pesta panen dalam rangka pemujaan, melainkan juga pada pesta perkawinan dan kenduri lainnya, termasuk untuk menghibur tamu. Dengan demikian, lulo dapat diadakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan. Jenis lulo yang umum ditampilkan oleh masyarakat di kota Kendari, adalah lulo sangia dengan pengiring gong besar yang berbunggul campuran emas atau musik band.

Tidaklah mengherankan jika Kota Kendari mendapat julukan sebagai kota lulo, hal ini dikarenakan hampir semua kegiatan-kegiatan yang bersifat hiburan yang dilakukan oleh mayarakat kota Kendari dari semua etnis tidak pernah ketinggalan menggelar acara lulo, baik siang maupun malam. Tarian ini bisa dilakukan di lapangan terbuka maupun di dalam ruangan atau gedung sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Pesertanya tak terbatas, mulai dari kaum muda-mudi juga orang-orang tua bahkan anak-anak pun terkadang ikut serta. Semakin banyak orang yang ikut molulo, suasananya akan semakin bertambah ramai dan mengasyikan.

Pada saat pelaksanaan perayaan Hari Ulang Tahun Ke-10 Kota Kendari pada tahun 2005, Wali Kota Kendari pada saat itu Masyhur Masie Abunawas mengadakan acara lulo massal di Kendari Beach, acara ini diikuti oleh peserta lebih dari 3.000 orang, dan dalam hal ini peristiwa itu merupakan pergelaran tarian tradisional kolosal terbesar dalam sejarah seni tari tradisional Indonesia, rekor tersebut kemudian tercatat pada Museum Rekor Indonesia.

Sejarah Perkembangan Islam di Konawe – Kendari

Tidak begitu banyak sumber mengenai proses masuknya agama islam di Konawe, Kendari – Sulawesi Tenggara. Namun pada tulisan kali ini saya akan mencoba membahas proses masuknya islam dari sumber-sumber yang saya dapat.

Masuknya agama islam di kerjaan konawe pada akhir abad ke-16 yaitu kurang lebih 16 tahun setelah kesultanan Buton menerima Islam. Islam masuk di Kerajaan Konawe secara tidak resmi pada masa pemerintahan Tebawo (sangia inato) khususnya di daerah-daerah pesisir pantai yang langsung berhubungan dengan pedagang-pedagang dari luar. Namun agama islam yang dibawa para pedagang belum dapat diterima masyarakat kerajaan konawe, sebab pada saat itu masyarakat masih menganut animisme dan dinamisme.

Pada masa pemerintahan Mokole Lakidende (Raja Lakidende II) sekitar abad ke-18 agama islam mulai diterima oleh masyarakat kerjaan konawe. Beliau mendapat gelar Sangia Ngginoburu, karena beliau sebagai raja Konawe pertama yang memeluk islam. Pada masa pemerintahan ayahnya Maago Lakidende sudah belajar agama islam dipulau Wawonii, bahkan ketika beliau diangkat menjadi raja di konawe beliau tidak berada di tempat, tetap sementara di pulau wawonii. Dan dilanjutkan dengan memperdalam seni baca Al-Qur’an di Tinanggea. Selama memperdalam pengetahuan agama islam pelaksana sementara raja Konawe adalah Pakandeate dan Alima Kapita Anamolepo sebagai pejabat sementara pada abad yang sama. Kemudian dilanjutkan oleh Latalambe, Sulemandara merangkap pelaksana sementara raja Konawe dan We Onupe pejabat sementara masing-masing pada abad ke-19.

Lakidende kemudian menikah dengan Wemanipa (waalumina) putri dari Imbatosa di Ngapaaha (Dokumenta, 1977). Dari Tinanggea kemudian beliau kembali ke unaaha untuk menerima jabatan yang telah disepakati oleh dewan kerjaan dan mengangkat Latalambe sebagai perdana menterinya.
Penobatan Lakidende sebagai Mokole di Konawe mempengaruhi perkembagan agama islam di kerjaan konawe. Mokole sangat mencintai agama islam dan sangat patuh menjalankan syariat islam dan dalam kedudukannya sebagai mokole sangat mendukung usaha penyebaran islam dikalangan rakyatnya.

Dalam proses masuknya islam di indonesia umumnya dan kerajaan konawe khususnya tidak menimbulkan pertentangan dikalangan masyarakat meskipun masyarakat indonesia telah memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Dengan demikian islam masuk secara damai, jadi masyarakat tidak marasa dipaksa dan lama kelamaan kebudayaan islam sedikit demi sedikit masuk dalam pola kehidupan masyarakat. Disamping itu didukung adanya toleransi dari para penyiar islam tersebut.
Pusat-pusat penyiaran islam di kerjaan konawe dimulai di pesisir pantai antara lain pantai tinanggea, kolono, torobulu, ngapaaha, lasolo, dan muara sampara. Setelah itu barulah islam masuk di daerah-daerah pedalaman termasuk di pusat kerajaan konawe di unaaha.
Sebagaimana diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mokole Lakidende pedagang-pedagang dari bugis dan buton semakin ramai mengunjungi kerajaan konawe. Disamping itu berdagang mereka juga rajin menyiarkan agama islam sehingga masyarakat semakin giat belajar Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *